Postingan populer dari blog ini
Kasih Tak Sampai.
“Apa gunanya aku berdukacita, bila dapat bersukacita? Apa gunanya aku menangis bila dapat tertawa? Bukankah menangis itu menyedihkan hati dan sedih itu merusakkan badan? Tetapi tertawa menambah kesehatan tubuh. Apa gunanya sejengkal, dipikirkan sampai sedepa? Bukankah lebih baik digulung, jadi pendek dan disampul sampai mati? Apakah gunanya dipikirkan hal yang akan terjadi pada esok lusa, sebulan atau setahun lagi? Karena hal itu belum tentu. Jika terjadi juga, bagaimana nanti saja. Ada umur, ada rezeki. Dan lagi, apa faedahnya diingat juga sekalian yang telah lalu? Bukankah barang yang telah terjadi, tiada dapat diubah lagi, walau dikejar dengan kuda sembrani sekalipun? Tidakkah lebih baik hal yang sekarang ini saja yang dipikirkan dan dibuat seboleh-boleh, supaya menjadi hal yang dapat menyenangkan hati dan menyentoskan pikiran?” (Kutipan Alm. Marah Rusli).
Petualangan
Pengalaman petualangan sangat berdampak kepada psikologis seseorang [2] , dan dapat diartikan sebagai negatif (misalnya ketakutan) atau positif (misalnya tantangan), dan dapat merugikan. Bagi sebagian orang, petualangan menjadi harapan besar dalam seseorang. Menurut petualang André Malraux , dalam bukunya La Kondisi Humaine (1933), "Jika seorang pria tidak siap untuk mempertaruhkan nyawanya, di mana harga dirinya?".Demikian pula, Helen Keller menyatakan bahwa "Hidup adalah berani berpetualang atau tidak." Kegiatan petualangan luar ruangan biasanya dilakukan untuk tujuan rekreasi atau kegembiraan: contohnya adalah balap petualangan dan wisata petualangan. Kegiatan petualangan juga dapat menyebabkan keuntungan dalam pengetahuan, seperti yang dilakukan oleh penjelajah Inggris Jason Lewis, misalnya, menggunakan petualangan untuk menarik pelajaran global dari hidup dalam lingkungan ekspedisi untuk berbagi pengalaman dengan anak-anak sekolah. ...
Komentar
Posting Komentar